SELAMAT DATANG SOBAT !!!! Terimakasih telah berkunjung ke ABADIORKES

8.08.2011

Diskusi bersama antar umat beragama tentang “Sumpah Pemuda” yang ke-81

Diskusi bersama antar umat beragama tentang “Sumpah Pemuda” yang ke-81


Salam hangat, buat saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air,……

81 tahun yang lalu, di buku sejarah kita masing-masing, tepatnya tanggal 28 Oktober 1928, dimana ada suatu titik temu berbagai jenis, aspek, serta perihal yang menyangkut keseluruhan dan menjadi awal kita berjuang bersama untuk Negara ini. “kami putra putri Indonesia, mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia, kami putra putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia, kami putra dan putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan bahasa Indonesia.” Kata-kata inilah yang menjadi kekuatan para bangsa
Indonesia khususnya para pemuda, untuk menjadi senjata yang ampuh dalam pengikatan tali persaudaran yang kukuh dan tak tergoyangkan sehingga para pemuda yang menjadi central pada saat itu dan dapat bertahan dari sang penjajah-jenjajah, hingga akhirnya Negara ini dapat merdeka dan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) samapi sekarang.
Kalau melihat hal tersebut, hasrat untuk percaya bahwa Negara kita penuh dengan jenis dan macam budaya, sudah barang tentu. Sehingga istilah SARA (suku, agama dan ras), harus timbul dan muncul ke permukaan. Jika kita menghubungkan suksesnya “Sumpah Pemuda” pada saat itu, untuk menjadikan para pemuda bersatu, adalah awalnya bangsa ini mulai mengayuh dayungnya untuk mencoba menyeberangi lautan dan melawan ombak yang ganas.

Namun yang perlu kita lihat dewasa ini, kayuhan dayung tidak maksimal, dan staknan pada suatu titik yang menjemuhkan yang membuat kebingungan para awak yang mulai panik. Persatuan mulai goyah, persaudaraan mulai renggang, toleransi dan kebersamaan juga hampir pupus. Jangan biarkan, perahu yang telah kita bangun selama ini akan terhempas oleh ombak yang kejam itu. Akankah perahu akan tenggelam dengan keputusasaan yang kita timbulkan oleh ego-ego sesaat yang tak berarti sama sekali?
Pertanyaan yang perlu kita refleksikan untuk menjadikan koreksi tersendiri buat kita sebagai bangsa yang besar dan penuh dengan warna ini.

Di moment “Sumpah Pemuda” ini, kita sebagai bahagian yang tak terpisahkan dari merah putih dan tak terpenjara seperti burung Garuda yang bergerak bebas dan menghiasi senjanya langit, harus bisa memaknainya dengan sudut pandang yang ada dengan berlandaskan pada bunyi “Sumpah Pemuda” itu sendiri. Tetapi kesenjangan-kesenjangan klasik kembali timbul, sehingga bangsa ini kembali dalam dilema yang tak berujung terkhususnya dalam hal SARA.
Bentuk pluralisme yang terjadi zaman nyata ini, menyebabkan berkurangnya jalinan komunikasi serta keharmonisan satu sama lain.

Isu-isu yang mencoba melahirkan propaganda yang mencoba memecahbelah Kesatuan bangsa ini, sudah tak asing lagi terdengar di telingah kita semua. Namun para pemuda sekarang mudah saja terpancing oleh pancingan yang tak terarah. Mudahnya proses adu domba masuk kedalam jiwa raga kita. Timbul perselisihan faham yang kalau kita pikirkan bersama ternyata tak ada gunanya. Kasus-kasus yang terjadi di Negara ini terkait masalah perepecahan kesatuan tadi, sudah dalam tahap yang mengkwatirkan. Pihak-pihak yang mencoba masuk ke dalam Negara Kesatua Republik Indonesia (NKRI), telah sukses menjalankan propaganda yang menyakitkan itu.

Dimanakah engkau pemuda?
Yang dulu seperti sapu lidi yang tersusun dari banyak batang lidi,
Namun sekarang telah mereduksi satu persatu tanpa meninggalkan bekas
dimana semanagat dan kebersamaan yang dulunya dijunjung tinggi, namun sekarang harus menjadi sampah yang didaur ulang pun, hampi tak bisa lagi…

Aku ,Sumpah Pemuda, tidak lahir untuk kepentingan sepihak…
Aku ,Sumpah Pemuda, yang telah terlanjur ada,
Aku, Sumpah Pemuda, adalah Ikhrar para pemuda,
pemuda-pemudi Indonesia
yang akan selalu menjadi pelita mu, wahai pemuda


Lalu apa yang harus kita perbuat, sebagai mahasiswa, sebagai manusia dan sebagai pemuda-pemudi yang berbaris rapi pada barikade suatu Negara?
Harapan apa yang kita inginkan dalam moment “Sumpah Pemuda” pada tahun ini, yang sangat signifikan dalam membangun keharmonisan bangsa ini?
Seperti apa tanggapan kita tentang “Sumpah Pemuda”?
Pertanyaan yang sedikit klise, namun kita tak semata-mata hanya dituntut dalam hal teori, namun suatu implementasi dan bentuk realisasi yang sngat-sangat nyata dari kamu pemuda, penerus bangsa, pemerhati sejati.

BERAWAL DARI WAKTU DAN BERAKHIR PADA WAKTU

Hendry R.P. Sianturi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jika ingin diskusi atau komunikasi lanjut, silahkan tinggalkan alamat e-mail teman.