SELAMAT DATANG SOBAT !!!! Terimakasih telah berkunjung ke ABADIORKES

4.29.2015

Perempuan sebagai Nahkoda Keluarga

 
Tampilan Nurhayati Subakat -pendiri produk kosmetik Wardah- masih kece saat saya menemuinya di kantor Perkosmi (Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia) jalan Jl. Suryopranoto No.2 Jakarta Pusat. Padahal usiannya sudah 64 tahun loh.

Bedak yang melekat di wajahnya, natural. Eyeshadow hitam di kelopak matanya, menghangatkan tatapan. Lipstik warna merah mawar di bibirnya mecing dengan baju batik merah kelir hitam yang dikenakannya.

Pemilihan kerudungnya pun sesuai dengan rok terusan, sama-sama berwarna hitam. Lalu apa rahasia wanita paruh baya ini tetap cantik dan modis? “Selalu berpikir positif, suka berbuat baik, merawat diri dan hidup teratur,” katanya, Kamis 16 April.

Percintaan dengan suaminya, Subakat Hadi pun awet. Keduanya berasal dari almamater yang sama, Institut Teknologi Bandung. Bedanya, Nurhayati jurusan Farmasi dan wisuda tahun 1975 sebagai lulusan terbaik, sedangkan Subakat jurusan Kimia dan lulus tahun 1972.

Nurhayati & Hadi Subakat (sumber: FB Nurhayati)
Mereka berkenalan sejak mahasiswa. Subakat pernah menjadi asisten praktikum Nurhayati. Hanya saja, ketika Mr. Subakat lulus, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Nurhayati. Subakat hijrah, melanjutkan kuliah beasiswa S2 ke Amerika Serikat. “Pacarannya singkat. Dari kakak saya dia mulai dekat dengan saya,” kata Nurhayati.

Kebetulan memang, ketika di USA, Subakat bertemu dengan kakak Nurhayati. Melalui bantuan sang kakak, Nurhayati semakin sering berkomunikasi dengan Subakat. Pulang ke Indonesia dengan membawa ijazah cumlaude, Subakat lekas melamar Nurhayati. Hingga akhirnya mereka memiliki 3 anak dan 7 cucu sampai saat ini.

Ketika Nurhayati merintis PT Pusaka Tradisi Ibu (PTI) (sebelum akhirnya berganti nama menjadi PT Paragon Technology Innovation), Subakat telah bekerja di PT Gunanusa Utama Fabricator sebagai manager direktur.


Untuk modal usaha, Nurhayati menggunakan penghasilan suaminya untuk mendukung permodalan perusahaan. “Waktu buka usaha dibantu modal dari suami,” katanya.

Dengan gaji tersebut, Nurhayati menambal kekurangan dana menggaji karyawan selama tiga sampai empat bulan pertama. Karena keterlambatan pembayaran gaji, menurutnya, akan mempengaruhi kinerja karyawan. “Kan gaji suami ngasih ke saya semua,” katanya.

Selain itu, Subakat berperan membantu menyusun sistem manajemen perusahaan. Pengalaman manajerial suami diperoleh ketika memimpin beberapa perusahaan. “Dia kan pernah bekerja di perusahaan besar, menjadi CEO di perusahaan besar,” katanya.

Meskipun telah membantu merintis PT PTI, namun Subakat baru bergabung ke perusahaan sebagai komisaris sejak tahun 1995. “Pensiun dini waktu umur sekitar 46 dari perusahaan Guna Nusa,” katanya.

Nurhayati mengatakan, prospek bisnis perusahaan tempat suaminya bekerja sedang keset. Apalagi perusahaan Gunanusa tidak memiliki diversifikasi usaha lain. “Itu salah satu alasannya,” katanya.

Di samping itu, lanjut Nurhayati, suaminya ingin fokus membantu sang isteri membenahi perusahaan. “Tugasnya manajemen, benahi perusahaan dan mengurus IT. Dan ada perbaikan-perbaikan yang harus mengikuti perkembangan,” katanya.

Kerjasama pasangan Nurhayati dan Subakat, berujung manis. Brand produk Wardah populer dan sudah mendunia. Nurhayati menuturkan, pencapaian ini berkat dukungan keluarga. Nurhayati bahkan telah memiliki empat pabrik produksi di Tangerang. “Karyawan yang loyal serta bekerja keras di semua lini, telah membuat Wardah berkembang seperti sekarang,” ujarnya merendah.

Sebagai seorang isteri, Perempuan kelahiran Padang panjang, 27 Juli 1950 ini ingin membantu suami secara finansial untuk menghidupi keluarga. Nurhayati berpandangan, selain mengurus rumah tangga, isteri yang bekerja sudah nge-tren sejak zaman Rasulullah SAW.

Saat itu isteri-isteri sudah memulai usaha seperti berniaga atau membuat kerajinan tangan. “Yang penting, dia tidak melupakan peran dan tanggung jawabnya pada keluarga sebagai istri dan ibu,” katanya.

Menurut Nurhayati, setiap kesuksesan karir seorang isteri, tidak terlepas dari dukungan suami. Asalkan isteri juga harus bisa memberi contoh kepada anak-anak untuk bekerja keras dan disiplin sejak dini. “Selama pintar membagi waktu, hal ini tentu tetap bisa berjalan beriringan,” ujar mantan apoteker RSUP Padang ini.

Nenek tujuh cucu ini menyarankan, meskipun isteri memiliki penghasilan lebih besar ketimbang suami, Keduanya harus saling menghormati dan menghargai serta pandai menempatkan diri. Di rumah. istri tetap patuh kepada suami sebagai kepala keluarga.

Dalam mengambil setiap keputusan pun begitu, misal memilih sekolah anak, berlibur atau membeli barang, tetap dirundingkan bersama suami. Sehingga wibawa suami tetap terjaga di mata keluarga. “Penghasilan yang besar, tidak boleh menjadikan isteri sombong dan lantas meremehkan suami,” katanya.

Nurhayati menampik suaminya akan khawatir dengan naiknya karir atau besarnya pendapatannya. Karena menurut Nurhayati, suami juga memiliki karir yang bagus. “Dia nggak merasa tersaingi,” kata Nurhayati.

Nurhayati mengatakan, saat ini selain membantu bekerja di perusahaan, Subakat juga sering berkunjung melihat cucunya. Apalagi lokasi tempat tinggal mereka tidak jauh dari kediaman anak-anaknya. “Hampir setiap hari ketemu dengan cucu karena tinggal satu area. Bisa pagi atau sore,” katanya.

Nurhayati mengatakan, sejak awal Nurhayati dan Subakat serius mendirikan perusahaan peragon. Sekarang sistem kerja 30 cabang sudah fully computerize. “Cabangnya 30 dan sudah online. Jadi bukan perusahaan hoki,” katanya.

Mereka ingin membawa perusahaan Paragon bisa mengalahkan perusahaan multinasional. “Semoga perusahaan ini jangan seumur pemiliknya dan bisa bermanfaat bagi orang banyak,” ujar perempuan yang hobi traveling ini.

Saat ini perusahaan Paragon dikelola bersama-sama dan sudah diserahkan dengan anak sulungnya. “Saat ini anak yang banyak mengurus perusahaan. Sudah lebih 5 tahun ini.bergabung,” katanya.

1 komentar:

Jika ingin diskusi atau komunikasi lanjut, silahkan tinggalkan alamat e-mail teman.